|

Studi Ilmiah Lapangan 2016

Keluarga Mahasiswa Manajemen Hutan
Fakultas Kehutanan, Universitas Gadjah Mada
proudly present :
SIL – Studi Ilmiah Lapangan 2016

SIL merupakan sebuah event yang diselenggarakan untuk mengeksplorasi lebih luas dunia kehutanan yang sebenarnya. Selain itu kegiatan ini dapat menambah wawasan teman-teman mengenai pengelolaan hutan yang ada. Tahun 2016, SIL kali ini mengangkat tema “Strategi mencapai kemandirian KPH” sebagai salah satu program nasional pembangunan hutan.
Tentunya destinasi tahun ini pasti lebih menarik dari sebelumnya. Penasaran? Check beberapa tempat destinasinya yuk!

1. Taman Nasional Bali Barat


Taman Nasional Bali Barat terletak di bagian barat dari pulau Bali di Indonesia. Taman nasional ini mempunyai luas 77,000 hektar, yang kira-kira meliputi 10% dari luas daratan pulau Bali. Taman Nasional Bali Barat terdiri dari berbagai habitat hutan dan sabana. Di tengah-tengah taman ini didominasi oleh sisa-sisa empat gunung berapi dari zaman Pleistosen, dengan gunung Patas sebagai titik tertinggi di tempat ini. Sekitar 160 spesies hewan dan tumbuhan dilindungi di taman nasional ini. Hewan-hewan seperti Banteng, Rusa, lutung, kalong dan aneka burung. Taman Nasional Bali Barat merupakan tempat terakhir untuk menemukan satu-satunya endemik Bali yang hampir punah, Jalak Bali di habitat aslinya. (Wikipedia)

2. KPH Jogja



Operasional pengelolaan hutan yang berada dalam lingkup kewenangan Dinas Kehutanan dan Perkebunan Provinsi DIY dilaksanakan oleh Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Yogyakarta (Balai KPH Yogyakarta) berdasar keputusan Menteri Kehutanan No.: SK.721/Menhut-II/2011 Tanggal 20 Desember 2011 Tentang Penetapan wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Model Yogyakarta Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta seluas ± 15.724,50 hektar (Lima Belas Ribu Tujuh Ratus Dua Puluh Empat Ribu Dan Lima Puluh Per Seratus). Sementara kelembagaannya diatur melalui Peraturan Daerah No. 36 Tahun 2008 tentang Tentang Organisasi Dan Tata Kerja UPTD Dan UPT Lembaga Teknis Daerah Provinsi DIY. KPH Yogyakarta mempunyai visi mewujudkan hutan aman produktif dan lestari bermanfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat. Sedangkan misi yang diusung ada 4, yakni pemantapan sistem administrasi dan manajemen pembangunan Balai KPH Yogyakarta, pemantapan dan pengembangan pengelolaan hutan yang terintegrasi, pemberdayaan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan hutan, dan pengembangan kerjasama dan jejaring kerja antar institusi. (https://kphjogja.wordpress.com/)


3. KPHL Bali Timur


KPHL Bali Timur ditetapkan  dengan keputusan Menteri Kehutanan No SK.621/MENHUT-II/2011 tanggal 1 November 2011. Wilayah KPHL Model Bali Timur merup gabungan dari kelompok kawasan hutan di wilayah timur Provinsi Bali, KPHL Model Bali Timur terletak di Kabupaten Buleleng, Kabupaten Karangasem, Kabupaten Bangli dan Kabupaten Klungkung. Luas Wilayah KPHL Model Bali Timur adalah ± 22.978 (dua puluh dua ribu sembilan ratus tujuh puluh delapan) hektar, dengan rincian : – Hutan Lindung seluas : ± 21.891 Ha. – Hutan Produksi seluas : ± 1.087 Ha. (http://bpkh8.dephut.go.id/)

4. Hot spring



Hot spring merupakan pemandian air panas alami yang berasal dari permukaan tanah dan dapat dipercaya untuk menyembuhkan berbagai macam penyaki. Ada beberapa lokasi hot spring di Bali. Penasaran? Makanya ikutan SIL!


5. Pantai Amed

Pantai Amed Karangasem menawarkan keindahan pantai dengan matahari terbit, selain itu pantai Amed memiliki keindahan kehidupan bawah laut yang dapat anda nikmati saat anda diving atau menyelam. Di pinggir pantai ada sebuah danau yang biasanya digunakan sebagai tempat untuk latihan menyelam. Penyelam domestik maupun mancanegara sangat menyukai menyelam di Amed Bali. Pantai Amed berpasirnya berwarna hitam, airnya sangat jernih, memiliki beraneka ragam biota laut, terumbu karang dan kehidupan lainnya. Hal ini menjadi daya tarik utama para wisatawan untuk menyelam di pantai ini. (http://www.water-sport-bali.com/)

Buat teman-teman yang masih penasaran dan ingin merasakan keseruan SIL 2016 di Bali, jangan ragu-ragu untuk ikutan. Bingung caranya?

Info lebih lanjut :
Dapat menghubungi CP yang telah tersedia atau kunjungi kami di

Twiter , Instagram , dan Official line

Similar Posts

  • |

    [MH PEDIA] Agroforestry di Hutan Rakyat

    Tahukah kamu, praktik pengelolaan hutan rakyat dilakukan dengan pendekatan sistem agroforestry, yaitu dengan memadukan tanaman semusim dan komponen pohon pada tempat dan waktu yang sama. Pada perkembangan pengelolaan hutan rakyat terdapat banyak variasi dan turunan dari pola agroforestry ini, namun pertimbangan dasar dalam pemilihan semua pola tersebut sama, yaitu pola agroforestry berbasis kebutuhan (PABK). Kebutuhan yang dimaksud secara umum merepresentasikan dari kebutuhan pangan, pakan dan papan.

    Pola agroforestry menurut PABK, antara lain pola Lorong (alley cropping), pola pohon pembatas (trees along border), pola baris (alternate rows), dan pola campur (random mixtures). Pola pohon pembatas (trees along border) memiliki kelebihan yaitu produktivitas tanaman semusim tinggi, namun memerlukan pruning rutin pada komponen pohonnya. Pola Lorong memiliki kelebihan dalam hal konservasi tanah air, namun memiliki kelemahan dimana bidang olah terbatas, pola campur memiliki kelebihan berupa adanya hasil musiman dari komponen pohon berupa buah, namun pada pola ini ruang yang ada menjadi tidak teratur dan pola baris memiliki kelebihan ruang yang teratur namun memiliki kekurangan karena pola ini memerlukan perlakuan pruning secara rutin. Pada penerapannya, pola pohon pembatas akan dipilih dengan pertimbangan biofisik lahan dalam kondisi datar, pola Lorong akan dipilih apabila kondisi lahan tidak datar, dan pola campur dipilih dengan pertimbangan adanya keterbatasan tenaga dalam proses pemeliharaan.

     

    Sumber :

    Maryudi, Ahmad dan Ani Adiwinata Nawir.2018. Hutan Rakyat di Simpang Jalan.Yogyakarta: UGM Press.

  • |

    MH CUP

    Ditengah sibuknya jadwal responsi dan presentasi proyek, KMMH berhasil mengadakan MH CUP pada tanggal 12-13 Desember 2015. Dengan tema Be the Next Green generation, MH CUP mengadakan lomba cabor futsal untuk jurusan se-UGM. Pertandingan ini diikutioleh 18 Team.

    Bertempat di galaxy Futsal Jalan Wonosari, pertandingan dimulai puku 10.00. Peserta diperbolehkan membawa suporter masing-masing. Pertandingan berlangsung sangat ketat dan sportif. Masing-masing peserta berusaha untuk merebut piala bergilir MH CUP 2015.

    Team yang masuk ke babak semifinal adalah team Peternakan, FKT 13, FEB Manajemen dan Fisipol. Ke empat team tersebut bertanding pada hari selanjutnya yaitu Minggu, 13 Desember 2015. FKT 13 melawan FEB Manajemen unggul 3-1. Sedangankan di sebelahnya ada Peternakan melawan Fispol. Pada babak Final, FKT 13 bertemu dengan Peternakan. Pertandingan Final sangat sengit dimana FKT 13 berusaha mempertahankan gawang. Namun tetap saja bisa di bobol oleh team Peternakan dengan skor 5-2.

    Dipenghujung acara, pengumuman hasil pertandingan. Peternakan memborong banyak kategori diantaranya Juara I Futsal, Lomba Photo Contest, Top score, dan pemain terbaik. Sedangkan juara kedua dirai oleh FKT 13.

    Selamat kepada pemenang. Sampai bertemu di MH CUP 2016. Tetaplah bermain dengan sportif and Be the Next Green Generation!

    Ditengah sibuknya jadwal responsi dan presentasi proyek, KMMH berhasil mengadakan MH CUP pada tanggal 12-13 Desember 2015. Dengan tema Be the Next Green generation, MH CUP mengadakan lomba cabor futsal untuk jurusan se-UGM. Pertandingan ini diikutioleh 18 Team.

    Bertempat di galaxy Futsal Jalan Wonosari, pertandingan dimulai puku 10.00. Peserta diperbolehkan membawa suporter masing-masing. Pertandingan berlangsung sangat ketat dan sportif. Masing-masing peserta berusaha untuk merebut piala bergilir MH CUP 2015.

    Team yang masuk ke babak semifinal adalah team Peternakan, FKT 13, FEB Manajemen dan Fisipol. Ke empat team tersebut bertanding pada hari selanjutnya yaitu Minggu, 13 Desember 2015. FKT 13 melawan FEB Manajemen unggul 3-1. Sedangankan di sebelahnya ada Peternakan melawan Fispol. Pada babak Final, FKT 13 bertemu dengan Peternakan. Pertandingan Final sangat sengit dimana FKT 13 berusaha mempertahankan gawang. Namun tetap saja bisa di bobol oleh team Peternakan dengan skor 5-2.

    Dipenghujung acara, pengumuman hasil pertandingan. Peternakan memborong banyak kategori diantaranya Juara I Futsal, Lomba Photo Contest, Top score, dan pemain terbaik. Sedangkan juara kedua dirai oleh FKT 13.

    Selamat kepada pemenang. Sampai bertemu di MH CUP 2016. Tetaplah bermain dengan sportif and Be the Next Green Generation!

    Crew of MH CUP
  • |

    Kontroversi “Dolar” Kelapa Sawit

    Industri kelapa sawit merupakan salah satu industri strategis yang bergerak di sektor pertanian (agro-based industry) yang banyak berkembang di negara-negara tropis seperti Malaysia, Thailand, dan negara kita sendiri, Indonesia. Kelapa sawit (Elaeis guineensis) merupakan salah satu komoditas penting bagi perekonomian Indonesia sebagai penghasil devisa negara. Berdasarkan data direktorat Jenderal Perkebunan tahuan 2014 pengusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia dibedakan menjadi 3, perkebunan besar swasta (PBS) sebesar 51,86%, perkebunan rakyat (PR) 41,42% dan perkebunan besar negara (PBN) sebesar 6,72%.Luas perkebunan kelapa sawit di Indonesia selama 10 tahun terakhir cenderung mengalami peningkatan, yaitu 6,59 juta ha pada tahun 2006 menjadi 11,44 juta ha pada tahun 2015.

    Hasil olahan kelapa sawit adalah barang-barang yang sering kita gunakan, seperti minyak goreng, campuran bahan sabun, shampoo, kosmetik, dll.Ekspansi massif dari perkebunan kelapa sawit bertujuan untuk memenuhi permintaan pasar akan kelapa sawit baik pasar nasional maupun internasional. Dalam pasar internasional, kelapa sawit masuk dalam komoditi lemak nabati selain minyak kedelai, rapeseed iol, sunflower oil, minyak kelapa,dll. Minyak kelapa sawit secara internasional diperdagangkan dalam bentuk Crude Palm Oil (CPO).

    Pada lima tahun terakhir, daya saing CPO di pasar internasional masing lebih baik dibanding daya saing minyak nabati lainnya. Konsumsi CPO dunia dalam lima tahun terakhir tumbuh dengan laju 7,7%/tahun, jauh di atas rata-rata konsumsi minyak nabati lainnya yang hanya berkisar 3,44%/tahun. Perdagangan CPO juga mengalami pertumbuhan yang paling pesat. Dengan pangsa pasar terbesar, yaitu 47,59% pada tahun 2004 dan terus mengalami peningkatan sebesar 7,37%/tahun. Dengan kinerja dan daya saing ini, prospek CPO di pasar internasional, dari sisi peluang peningkatan konsumsi dan ekspor diperkirakan masih cukup baik.Sehingga tak mengherankan jika CPO atau industri kelapa sawit dianggap sebagai tulang punggung perekonomian Indonesia yang memberikan devisa “dolar” cukup besar. Pada 2017, nilai ekspor sawit Indonesia mencapai 22,97 miliar dolar AS, atau meningkat dari 2016 yang hanya 18,22 miliar dolar AS. Secara tak langsung sawit berkontribusi besar dari total ekspor, misalnya pada 2016 ekspor non migas Indonesia mencapai 132 miliar dolar AS.Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia pada 2017 mengalami surplus 11,84 miliar dolar AS dan sama seperti 2016 penyumbang devisa terbesar masih berasal dari ekspor minyak sawit dan produk turunannya.

    Demi meningkatkan produksi kelapa sawit, Indonesia telah melepaskan seluas 6.772.633 ha kawasan hutannya kepada 702 perusahaan. Hilangnya kawasan hutan inimenyebabkan banyak dampak negatif menurunnya populasi satwa, dalam hal ini orang utan. Dilansir dari situs KLHK, berdasarkan hasil penelitian Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016, diperkirakan tinggal 71.820 ekor orangutan di Sumatera dan Borneo (Kalimantan, Sabah dan Serawak) yang tersebar ke dalam 52 meta populasi. Dari semua itu, hanya 38 persen yang diprediksi akan lestari (viable) dalam 100 sampai 500 tahun ke depan. Sialnya, kerugian atau ongkos lingkungan hidup yang ditimbulkan dari industri sawit ditanggung negara dan rakyat. WALHI mencatat, kerugian negara dari kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2015 akibat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit mencapai Rp 200 triliun.

    Solusi sementara yang digunakan pemerintah untuk menyeimbangkan antara sektor ekonomi dan ekologi terhadap industri kelapa sawit di Indonesia adalah dengan didirkannya Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO). Tujuan ISPO didirikan adalah untuk meningkatkan daya saing global dari minyak kelapa sawit Indonesia dan mengaturnya dalam aturan-aturan ramah lingkungan yang lebih ketat. Semua produsen kelapa sawit Indonesia didorong untuk memperoleh sertifikasi ISPO. Di tingkat internasional, isu mengenai dampak negatif kelapa sawit juga coba diatasi dengan adanya kriteria-kriteria Rountable on Sustainable Palm Oil untuk membangun industri-industri kelapa sawit yang ramah lingkungan.

  • |

    Open House HMM : Welcome to the Jungle!

    PSDM KMMH bersama PSDM 3 HMM lainnya serentak mengadakan acara Open House HMM KM-FKT pada Jumat, 11 Desember. Acara ini di khususkan kepada junior angkatan 2014 yang sebentar lagi akan menuju ke level yang lebih tinggi yaitu peminatan.

    Selain pengenalan masing-masing HMM, angkatan 2014 juga dipertunjukan ciri khas masing-masing minat dengan stand yang dibuat oleh masing-masing HMM. Harapannya dari acara ini agar adik-adik tidak salah dalam memilih minat. karena minat yang kamu pilih akan mengarahkanmu pada masa depan yang sesungguhnya. Welcome to the Jungle, the Next Level!

  • |

    KMMH Peduli Kabut Asap

    Awal bulan September adalah sebuah kesedihan melanda Indonesia khusunya hutan. Hutan yang selama ini menanggung beban CO2 yang dihasilkan oleh kendaraan bermotor, pabrik-pabrik yang tak tahu menjaga lingkungan, sekarang malah ditambah lagi bebannya sehingga hutanpun berduka. Hutan yang kini semakin menipis dan ditambah lagi musibah yang menimpanya menyebabkan dampak-dampak yang sangat luar biasa dan merugikan masyarakat yang ada di sekitarnya. Duka yang dirasakan oleh hutan dan Indonesia yaitu kebakaran hutan dan asap akibat dampak yang dihasilkannya.
     Kebakaran hutan merupakan faktor ekologi potensial yang mempengaruhi hampir seluruh ekosistem daratan. Proses terjadinya kebakaran hutan sebenarnya akibat penyalaan bahan-bahan organik kering yang ada di dalam hutan  (Widyastuti S.M dan Sumardi, 2004). Kebakaran hutan menyebabkan dampak yang terjadi begitu besar. Walaupun frekuensi kebakaran hutan itu jarang namun dampak yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dapat menyebabkan keseimbangan ekosistem terganggu. Kita dapat melihat langsung akibat yang ditimbulkan seperti kematian tumbuhan, satwa, maupun asap yang ditimbulkan dapat mengganggu kehidupan manusia. Pengaruh api yang tidak terkontrol dan pengaruh dari faktor-faktor pendukung dapat menyebabkan kebakaran hutan pun semakin merambah luas sehingga tempat yang seharusnya jauh dari kebakaran pun dapat dengan mudah ikut terbakar.
    Sumber utama dari kebakaran hutan adalah pengendalian api oleh manusia karena mereka kurang menyadari dan kelalaian dari manusia yang selama ini hanya mementingkan kepentingannya untuk merambah hutan, membuat kebun-kebun sawit, dan keegoisan pribadi semata. Mereka membakar hutan dengan seenaknya tanpa memikirkan apa yang akan terjadi akibat ulah mereka itu. Namun tak hanya manusia-manusia yang tidak bertanggung jawab yang menjadi faktor-faktor kebakaran hutan.  Kebakaran hutan dapat didukung oleh faktor iklim, topografi, bahan bakar, dan pengelolaan kawasan yang tidak baik (Widyastuti S.M dan Sumardi, 2004). Faktor-faktor inilah yang dapat mendukung proses pembakaran semakin cepat apalagi ketika musim kemarau. Adapun dampak dari kebakaran hutan itu ada yang positif dan negatif. Dampak negatif dari kebakaran hutan adalah    :
    1. Kerusakan vegetasi dan satwa. Kebakaran hutan dapat menyebabkan tingkat kerusakan yang bervariasi pada pohon-pohon utama penyusun hutan. Kematian satwa pun tak terhindarkan lagi dan berpindahnya satwa ke tempat lain.
    2. Kerusakan ekosistem. Kebakaran hutan dapat menyebabkan dampak yang serius bagi lingkungan sekitar baik itu kerusakan pada tempat rekreasi yang indah, dapat merusak padang penggembalaan juga, dan lain-lain.
    3. Kerusakan lain yang merugikan seperti pada kesehatan, pernurunan kualitas udara, dan lain-lain.
    Dampak positif dari kebakaran hutan :
    1. Pembersihan lahan. Kebakaran hutan dapat menyiapkan lahan lebih mudah tanpa mengeluarkan dana yang besar.
    2. Pengaturan akumulasi seresah atau bahan bakar. Kebakaran hutan dapat menyebabkan bahan bakar yang ada di dalam hutan sedikit demi sedikit telah berkurang dan diatur kembali.
    3. Membantu kegiatan silvikultur. (Widyastuti S.M dan Sumardi, 2004)
    Kebakaran hutan di Indonesia memang sering terjadi setiap tahunnya. Namun setiap tahunnya mengalami peningkatan sejak tahun 2010-2015. Di Jambi contohnya, di tahun 2010 lahan yang terbakar seluas 2,5 ha dan pada tahun 2014 meningkat menjadi 3.470 Ha  (Kompas.com, Senin 14 September 2015, Kabut Asap Kebakaran Hutan, Setengah Abad Kita Abai). Kita dapat melihat bahwa kebakaran hutan memang telah terjadi setiap tahunnya namun semakin lama maka luas lahan yang terbakar pun semakin meningkat. Penyebab kebaran hutan yang kini kian merambah daerah Sumatera dan Kalimantan adalah alih fungsi lahan yang semakin lama semakin meningkat dari hutan menjadi perkebunan dan hutan tanaman industri yang menyebabkan lahan gambut semakin lama semakin mengering. Ahli hidirologi dari Universitas Sriwijaya, Momon Sodik Imanuddin, mengatakan, akar dari kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan adalah adanya pengeringan berlebih dan tidak terkendali tersebut (Kompas.com, Senin 14 September 2015, Kabut Asap Kebakaran Hutan, Stengah Abda Kita Abai). Peningkatan ini menyebabkan kabut asap juga semakin meningkat. Dampak dari kabut asap yang ditimbulkan akibat dari kebakaran hutan yang terjadi di provinsi Sumatera dan Kalimantan semakin hari semakin serius. Seperti yang dikutip oleh Kompas, Kamis, 8 Oktober 2015, kabut asap dari mata satelit NASA memperlihatkan betapa buruknya kabut asap yang ada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Kabut asap yang terlihat tertiup angin ke utara sehingga menyelimuti wilayah Singapuran Malaysia. Wilayah tersebut sebagian besar tertutup oleh tebalnya asap sehingga kita tidak bisa melihat secara utuh pulau tersebut. Asap tersebut membuat jarak pandang yang ada di wilayah tersebut semakin berkurang, sehingga membuat arus transportasi pun terganggu. Tebalnya asap juga dapat mengganggu kondisi fisik dari manusia. Udara yang kotor akibat ditimbulkan oleh asap dapt membuat penyakit gangguan pernafasan seperti ISPA sudah mulai menyebar kesetiap elemen baik itu orang dewasa maupun anak-anak sekalipun. Hal ini sangatlah berbahaya bagi pernafasan karena tubuh hanya memperoleh sedikit oksigen yang seharusnya membantu melancarkan peredaran darah. Seperti yang ditulis pada Sindonews.com, Sabtu 3 Oktober 2015, 4.113 warga Ogan Komering Ilir telah menderita ISPA yang mengganggu kesehatan mereka.
    Kebakaran hutan juga menyebabkan pengaruh pada kondisi sosial dan ekonomi dari daerah yang disekitarnya. Kebakaran hutan dapat menyebabkan masyarakat yang menggantungkan hidupnya di hutan kini akan menempuh kesusahan. Mereka tidak bisa lagi memanen hasil hutan karena kayu yang mereka tanam telah terbakar dan hasil hutan non kayu seperti madu bakal habis terbakar. Jarak pandang yang sangat terbatas menghambat jalur transportasi terutama pada penerbangan dan jalur darat sehingga proses-proses pendistribusian sembako maupun bahan bakar akan terhambat. Sekolah-sekolah pun ditutup sehingga menghambat dari siswa yang ingin menempuh pendidikan.
    Peran pemuda dalam menanggulangi kebakaran hutan memang sangatlah terbatas. Masalahnya kita hanya sebagai akademisi yang posisinya tidak bisa mengambil suatu keputusan dalam kebijakan. Namun disana peran kita dalam mengatasi kebakaran dapat berupa melakukan sebuah riset yang nantinya dapat digunakan untuk membantu masyarakat di wilayah yang terkena dampak kebakaran hutan seperti membuat alat pembantu pernafasan, sosialisasi tentang menjaga pengelolaan hutan dan mengatasi bencana kebakaran hutan, maupun kita dapat mendesak pemerintah untuk menanggulangi kebakaran hutan. Kita juga sebagai pemuda bisa terjun ke lapangan untuk memberikan bantuan berupa perawatan dan sebagainya.

    source :
    The International Conference on Science and Technology 2015, 11-13 November
    2015
    http://icst.ugm.ac.id/



    Aksi Solidaritas

    -Keluarga Mahasiswa Manajemen Hutan Peduli Kabut Asap-

    Penggalangan dana bantuan untuk saudara kita yang terkena kabut asap di Sumatera.
    Dana dapat disalurkan langsung di LOBBY GEDUNG B FAKULTAS KEHUTANAN UGM.
    Atau transfer melalui :
    Mandiri  : 1130007929536 a.n Cholil
    BNI : 0288924467 a.n Mahardhika Cahaya Utama
    #KMMHPeduli
    CP : Mahardhika 085728201995
    “Alasan kalian menggalang dana?”

  • |

    EUDDR, respon Uni Eropa akan krisis iklim

    European Union Due Diligence Regulation (EUDDR) atau Peraturan Uji Tuntas merupakan kebijakan yang dikeluarkan oleh Uni Eropa sebagai respon dari krisis iklim dalam bentuk perizinan komoditas dan produk yang masuk dalam negara Uni Eropa bukan merupakan hasil dari kegiatan deforestasi hutan. Hasil kesepakatan terdapat enam produk yang bebas deforetasi yakni produk kayu, minyak sawit, kopi, cokelat, kedelai, dan daging. Kesepakatan ini telah disetujui pada 13 September 2022 dengan 453 anggota yang setujuan terhadap kebijakan ini.

    Kebijakan ini berlaku pada produk yang dihasilkan dari lahan deforestasi setelah Desember 2020. Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan seluas 3,1 juta hingga 3,2 hektare lahan perkebunan sawit berada dalam kawasan hutan. Walaupun perkebunan sawit mungkin telah ada sebelum tahun 2020 akan tetapi lokasi yang berada di kawasan hutan dan bukan lahan yang sesuai juga akan menjadi permasalahan dan penghambat pengimporan produk ke Uni Eropa. Perusahaan pengimpor harus membuktikan produk terbebas dari deforestasi dan memiliki lokasi geografis yang jelas saat pelaksanaan uji tuntas.

    Indonesia perlu mendapatkan sertifikasi produk bebas deforestasi agar  ekspor ke Uni Eropa dapat terus dilakukan. Berdasrkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), ekspor produk sawit ke Uni Eropa pada bulan Agustus 2022 mencapai 506,8 ribu ton dari total ekspor sawit sebesar 4,33 juta ton. Sekiar 0,2 % ekspor sawit Indonesia ditujukan ke Uni Eropa dengan nilai ekspor mencapai US$ 500 juta.

     

    Daftar Pustaka :

    https://katadata.co.id/tiakomalasari/berita/63477ebb15bdf/ekspor-produk-sawit-indonesia-ke-uni-eropa-naik-51

    https://www.forestdigest.com/detail/1971/apa-itu-euddr

    https://www.forestdigest.com/detail/2006/euddr

    https://www.republika.co.id/berita/rmgovl335/ue-larang-impor-komoditas-penyebab-deforestasi-termasuk-minyak-kelapa-sawit

    https://prsoloraya.pikiran-rakyat.com/cek-fakta/pr-1113425798/deforestasi-fakta-sebab-akibat-dan-solusinya

One Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses